Senin, 07 Februari 2011

SAJAK-SAJAK PERI CAHAYA--SASTRA CINTA

TELUK DAGHO

berapa puteri yang mandi di sini
hingga lembah dan gunung berlapis menyimpan wangi

bakao air payou
kerikil cakang siput
mensajakkan cahaya
hingga teluk sewarna perak
dalam kitab kemaharayaan 
kedatuan Manganitu


Inilah lembah selatan jazirah raja
Tari benko mengacungkan pedang
saat laut menarikan perang Kora
dalam keberanian naga

ikan maha warna di hamparan karang
rambut gadisgadis menjuntai di kilatan pagi
kakikaki baja menderap di atas tanah merah
seakan mantra Pananaru dilafalkan langit
buat pangeran yang siap bertarung

berapa panjang abad buat teluk ini kekal
naga di tanah runtuh
pedang emas selatan
pertapa tua pintareng
menuru bebalang
menanti polo mengayu bininta
seperti kisah tua tak terkalahkan

29 September 2010

SAJAK BUAT RK

Harusnya kau ada di laut ini
melayari waktu di sisa nafasku
dengan rambut tergerai 
menjuntaikan keihklasan langit
seperti cahaya menjagai pulau

burungburung laut di sini gagah
mengelindankan kemegahan
di atas orkestra terumbu dan ombak
mengiringi tarian ikan
menyambutmu seperti putri ke rumah hatiku

ke utara aku pergi bersama bayangmu
dalam deru yang liar disiurkan angin
perahu dan nestapa seakan karib
menantangku sebagi lelaki
tak sekadar mensyairkan mantra
tapi meraihmu dalam nyata
seperti sepasang dewa 
dalam keindahanya istanahnya

Harusnya kau ada di laut ini
merebahkan sepotong kata cinta
buat lunas hidupku
sebelum ia rapuh
dan karam di tepi karang
yang dipenuhi hantu

4 Oktober 2010


TELUK TAHUNA

( Buat Aynnir)

bangau itu telah bergenerasi menjagai teluk
seperti sajak rinduku padamu
sejak zaman kora beterbangan ia
mengabadikan kemegahan cekukan lembah Awu 
di mana doa dan nafasmu bersimpuh

Seakan leluhur mau kita punya kota dan burungburung
buat cinta berumah dan langit berceloteh pada kepak sayap bangau
lalu kau menarikan hatimu pada setiap lagu pantai dinyanyikan angin
hingga aku bisa menatap siuran hati pada matamu yang menghibahkan sayang

Tatehe seperti juga Tatengkeng
dua teruna dari zaman yang berbeda
tapi samasama merapalkan cinta di atas teluk yang indah
dan gadis itu masihkah menyanyikan perahu
menderap dayung menjemput rindu

Ombak selatan di Apes menyemburkan kerikil
hiu purba merondai tanjung dengan gigih
wahai teluk sajaksajakku
ini lariklarik nafasku sewarna celedoni laut
sampaikan cintaku pada gadisku

8 oktober 2010

BENDAR

selalu saja berawal dari cerita kali agar waktu kita tak tercecar
karena di muara sejarah selalu bermula, mengarung atau mengendap
abad-abad adalah perantauan yang tak pernah usai
cakrawala senantiasa mencipta yang baru mengaburkan bandar yang dulu kita labuh

kita akan mengenang jengki, kali yang tenang
perempuan dengan pinggul yang mengangkang 
dalam sejarah leluhur Toar Lumimuut dan pelaut utara selatan
dan di hening kita mendengar Adzan dari muadzin yang baru datang 

di sini kita tak sekadar membaca kisah pecinaan atau saudagar Arab
Portugis, spanyol dan belanda juga menyejarah dalam katrili di tarian keke
Hussen Mulachele juga penyair blengko merias Manado
dan kita mesti mengenang Baginda Tahar di tepi pantai yang hilang
bersama kana lampu soma dampar memberkas di tiang yang dulu pasang belo

siapa yang mau menggatang nasib di puncak klabat
biar mencusuar wenang terus mengkilap dari laut kita tatap
genderang bertabuh mengiringi pedang tanchi menguji kulit
sampri melantunkan simfoni buat langit terus biru

di boulevard moyangmoyang tua menjagai ceruk senja
hingga cucucicit bermimpi indah tentang abad yang segera tiba

11-10-2010

GADIS MANADO

Aku mencarimu di antara tumpukkan bangunan iitu
aime di mana kau sembunyikan nafasmu
jalan menikung laut tertimbun
di mana kau taru noktah yang dulu pada nada malam kita rindu
saat rambutmu keemasan di puncakpuncak syair Celine

aku telah menyusun sajak ini berkalikali, dan runtuh berkalikali
seakan waktu menjadi penat mengeja ritme Habanera
kakikaki kecil menghentak anggun dan liar

kau gadisku dengan tawa biru laut yang dalam
menguburkan aku beribu mil dan meronta
Charlotte...mengapa kau tinggalkan aku nyanyian itu?

burungdara mengangkasa tak sebringas elang tua
penyair ini dengan pedangnya sendiri menusuk jantungnya

Sparta menjadi sepi dan kamar-kamar hotel itu terkunci
meski siang meributkan keramaian mart
dan bau bakaran ikan menjamu kenangan di tepi kedai boulevard

wangi esteloude dalam impresi pink
lelaki dengan topi joger mengantar bunga kematian
dulu kau bernyanyinyanyi di boncengan
menyandarkan payudara agar langit tak dingin di punggung tua

sebaris larik puisi Perancis kueja dengan gamang
kau tak ada, ketika sunyi ini mengeroyokku dalam cabikan teramat perih


12-10-2010


PERJALANAN HATI VITRI

baiklah kubuatkan engkau sebuah ruang sketsa
tak perlu kuas cat atau tinta, cukup tawamu
mengindahkan jarak ribuan mil yang kita namakan rindu
berapa langka kau butuh menuju hatiku

dari rawamangun tiang-tiang metropolitan
jalan penuh kelip dan kemacetan, siuran nafas penat
matamu tetap indah seperti vitri yang kubaca dalam kitab nabi

dik, kotaku juga belukar bangunan, bau gas dan desingan industri
kebohongan yang liar mencabik seperti perang perkasa yang diriwayatkan zaman

"dan kau bertanya adakah sajak untukku"

dik, sajak dan keindahan adalah engkau!
hurufhuruf yang sujud di kaki hati disemerbaki kebaikkan
penyair tak perlu kata, cukup dengan hatimu
surga pun tahu cahaya yang memendar ini adalah sayangmu

aku hanya bisa menulis laut dik, atau lempengan karang yang mencuram
tapi tak bisa menulis engkau karena penyair tak mampu mengungguli mawar atau leli yang berias dalam tawa anyelirmu

baiklah kubuatkan engkau ruang sketsa
hingga aku bisa menyusun cinta
buat karib malam dan pagiku, juga perjalanan kematianku

12-10 2010

KOREOGRAFI BATIN 1

aku menggali malam buat makam mawar
dan meneroka duka hujan pertama menyentuh tanah
kerna aku tak punya jawab buat pertanyaan lengang
kecuali jasad bulan yang memucat di kornea mata

25 Oktober 2010

MENTAWAI

Di suatu hari yang muram adikku,
Uma-Uma lantak bersama ratusan mayat
saat itu baru kubaca sejarah Sekerei menjagai laut Mentawai 
airmatanya berhamburan ke udara seperti buibui tua di pucuk ombak

ini duka Sipora, Pagai dan Siberut adikku… dan dukaku
tsunami yang berbagi kisah manusia tetap saja manusia
Tuhan yang Itu, selalu rahasia. yang mulia
Mengurai sejarah panjang Tua Pejat yang tua 
Di rinai airmata Mintaon'peta migrasi bangsa-bangsa

Mari berbagi airmata adikku di tanah duka ini
Biar Mentawai kuat melafal Arat Sabulungan 
Syair-sayir Taikaleleu di keharmonisan alam
Dan nenek moyang yang gagah tetap menguncupkan daun
Buat puja Tai Kabagat Koat dan Tai Ka Manua 
Di jantung peradabannya

di sini,
Pemburu membuat penatoan seperti matahari adikku
Dalam sakramen sikerei dan rimata, kerena lelaki mestilah lelaki
Ia berangkat dari Sipatiti hingga John Crisp menulis sajaksajak 
ombak Poggy buat peselancar bertemu dunia
laut yang mendidih di sejarah moyang Mentawai

para lelaki dan primadona menari Turuk Uliat 
meragakan gerak binatang alam
“uliat bilou, uliat manyang
turuk pok-pok, galagau”

mari menari adikku….
Di gelombang pasang yang menghujam
Biar Mentawai terus bergerak 
dalam bebunyian syairsyair keindahannya

28 Oktober 2010

--------------------------------------------------


IRONI DARI TANAH HITAM


adikku, aku ingin berbagi sembab denganmu:

di sini lelaki dengan bahasa gerak tubuh Marokaahe menari
orang Marind, sejarah tua kapal uap di sungai Maro 
mengusung gasing Izakod Bekai Izakod Kai
seperti resital indah kisah surga di tanah hitam 

harusnya waktu berada dua jam di masa depan
di Wamena, dan mata cekung orang Dani. 
rasanya mundur ribuan tahun 
ke belakang membawa Jayawijaya

Adikku...... 
di Obiah ada tempat acara purba bakar batu
Seorang Onduwafi berdiri di puncak menara kayu
mengintai jauh di kesuraman Papua
ia berteriak memanggil para lelaki dengan panah dan tombak 
melontarkan bebunyian ritmis dari mulutnya
mengekalkan sajaksajak langit dan tanah muram

pria berkoteka, pilamo di pintu gerbang
umma berjajar di sampingnya
perempuan dan anak-anak berdandan
melumuri tubuh dengan lumpur
menyanyikan lagu terdengar seperti masa lalu 

kamupun akan tahu, di sini adikku...
Sang Onduwafi akan menyuruh dua orang pemuda 
membawa seekor babi 
pemanah tua menembakkan sebuah panah kayu
menusuk jantung buat alirkan darah ke udara
seperti suara nyanyian purba penduduk nan riuh
semakin keras dan cepat di nguikan babi merenggang ajal
Sepasang pria dan wanita muncul
mereka berlarilari melepasan roh di tarian mistisnya


pernahkah kau baca hot plate purba
babi dan hipere terpanggang di atas tumpukan batu panas
ditahan tumpukan daun segar dan rerumputan basah 
yang menutupi tungku tradisional

beginilah aku berbagi denganmu di senyap Papua:
Pepera seperti prasasti sunyi pusaka terlara

Di sini engkau dapat menyaksikan Musamus
gundukan tanah rumah rayap yang tinggi 
Kangguru, tikus pohon. Kasuari, Rusa 
pada piguru usang riwayat penjarahan dan perusakan

lalu kau dengar adikku...
di Teluk Wondama, ribuan pengungsi banjir Wasior
apa yang mereka makan di ladang airmata itu
sungkawa gunung keramat
air turun dari tanah tersayat
mengirim ratusan jiwa sebagai pesan
di sini luka mengangahkan Papua
berdarah seperti babi yang tertikam anak panah

adikku, Papua adalah ironi
kemiskinan simiskin di atas tanah berlimpah ruah sumber daya alam 
tambang emas dan tembaga terbesar di dunia
lapangan gas dan hutan biodiversitas, plasma nutfahnya luar biasa. 
tapi Onduwafi yang berdiri di puncak menara kayu
berbagi airmatanya denganmu

29 Oktober 2010
CHUANGSHANG

(dilarang dibaca anak di bawah umur)

Semalam ada kawan beri aku Chuangshang 
bergambar perempuan telanjang
shibafan katanya serbuk perangsang
aku ga girang kerena di ranjang aku ga garang

aku bilang haram hidup jalang
mati nanti gentayang

ayolah kata dia dengan senyum cengengesan
sambil memperagakan goyanggoyangan
matanya sesekali berbinar melukiskan kebringasan
kayak anjing yang suka ketergesahan

aku bilang sukaku yang lembut penuh sayang
seperti embun menokta di cekung daunan

ia nyengir padaku: seperti para paleo ngetawain Darwin
“kawan kau kayak manusia dari zaman evolusi,” katanya tak nyaman

Aku bilang: “cinta itu persenyawaan perasaan”
Persenggamahan adalah ritus kesakralan
Laksana buah dimasak alam
Jatuh ke tanah jadi kecambah hutan 

Lalu chuangshang buat apaan? tanyanya penuh kesundalan
"Itu buat manusia yang imannya abalabalan"

Kawanku pulang tanpa pamitan
Chuangshangnya ketinggalan di tanganku yang gemetaran
gambar telajang mengedipkan mata jalangnya bergantigantian
Sssttt: aku dikit terasang membayangkan pacarku yang suka sembahyang

Manado, 11 November 2010
BUKAN (TAPI) PUISI

Di tahun 1915 Albert Einstein mengatakan 
Jagat Raya mengembang
Kosmolog pada ga percaya
14 tahun kemudian Edwin Huble yakin 
galaksi di luar Bimasakti menjauh dari bumi


di observatorium California Mount Wilson mereka menghitung
semakin jauh suatu galaksi semakin cepat dia menjauh
Sebuah galaksi berjarak 10 milyar tahun cahaya 
akan menjauh dengan laju 200.000 km/detik 

Laju benda masif setinggi itu adalah sebuah tekateki
Ruang angkasa saling memisah buat luasnya alam semesta

Apa yang meledak dalam the hot big-bang George Gamow 
Saat kosmos menarikan gerak muaian alam semesta
Dalam konfigurasi 100 milyar galaksi berisi 100 milyar bintang.
Mereka adalah tunggal yang mengembang dari ketiadaan

benih galaksi adalah radiasi dan partikel subnuklir
Pada suhu kosmos 100 milyar derajat Fluida yang bayi
Pada umur satu detik dan tiga menit berproses nukleosintesis
atom-atom ringan terbentuk dari hasil reaksi fusinuklir

380.000 tahun setelah Big-Bang
proton dan elektron bergabung 
membentuk atom Hidrogen Netral
Jagat Raya menjadi transparan


di Holmdel, New Jersey 
Arno Penzias dan Robert Wilson 
mencoba antena telekomunikasi
Tepi jangat raya mendesis
masa muda alam semesta berbisik
langit seperti dilabur putih
sama di semua arah
mulus sempurna tidak ada nodanya
kosmolog pun percaya 
Albert Einstein bukan orang gila


“gelombang kejut energi dari ledakan//masih memancarkan radiasi//
melintasi angkasa yang terus berkembang//batas-batas semesta meluas” 

cinta, seberapa besar energi kejut dan ledakannya?
E = m c2 paradoks si kembar 
mendapati saudara kembarnya sudah jauh lebih tua 
dalam perjalanan mendekati kecepatan cahaya
keajaiban yang tak banyak di pahami orang


Manado, 13 November 2010

TEOFANI KEINDAHAN

di taman cahaya
kata tak ada
kecuali keterbenaman 
di keindahan tertingginya

keindahan melampaui semua 
tanpa keterpisahan 

ia menerangi 
panasnya menghidupkan
menganugerahkan riang
menegaskan langit dan wujud bumi

cabangcabang pohon tumbuh ke arahnya
hewanhewan menyayangi anakanaknya
langit bergerak oleh kekuatannya
menggerakkan pula matahari dan bintangbintang
juga kebaikan

kilauan ini cinta 
suci adanya, tak berbatas, dan membebaskan 

ia adalah sosoknya bukan atributnya 
kenyataan sakral pencarian jiwa 
biara ma’rifah yang tak akan runtuh
seperti teofani keindahan wajah sang kekasih
yang hanya bisa diraih jiwa berhias keindahan
karena keindahan adalah kecemerlangan kebenaran 

semua kenyataan memancar dari yang satu itu 
cahaya yang satu mewujudkan yang banyak 
eksistensi kosmik yang meruah
laksana aura di sekitar matahari
terbang dengan sayapnya ke jiwa yang mengejarnya 
karena keindahan bersemayam di kedalaman jiwa
dan harmoni ini bersinar di dalam diri yang sejati 

Manado, 16 November 2010

PADANG ILALANG CINTA


Bumi berputar di matamu 107.218 km perjam
Dan cintaku menua di pendaran korneamu yang indah
Dimana Tuhan menyusun cinta seperti lapisan udara
Buat larik sajak penyair yang menuliskan rindunya

Lalu 4,6 milyar tahun pucukpucuk ilalang 
menjalarkan akar manisnya di khatulistiwa
membuncitkan chimborazo seakan langit tak jauh
buat penyair memasang bintang dari pesan syairnya
bagi kekasih yang setia menanti salam itu di siuran angin 

dia akan mengaisngais susunan atmosfer
dia akan menggaligali susunan lapisan bumi
mencari kekasihnya 
penyair yang hanya bisa melepaskan kata dari cangkangnya
seperti tenaga endogen yang tabah mengerami bumi
hingga terus berotasi pada porosnya

inilah aku! seru penyair itu
laksana suara kedalaman mariana
melintasi 149,6 juta kilometer
buat bertemu matahari yang selalu cemerlang di hatimu

o…
bumi membentang 510 juta kilometer
berapa tikungan buat kita bertemu
hingga penyair itu bisa membacakan mantra gravitasi
bagi penyatuan dua hati yang saling mencintai

Bumi berputar di matamu 
Dan cintaku menua di pendaran korneamu 
Laksana padang relief bentukan alam
Dua kutub yang teranugerahkan jarak
Cinta sejati selalu tak termaknakan sebuah kata

21 November 2010

MATEMATIKA CINTA


Maukah engkau menghitung volume dan luasnya cinta
Ia kecil tak terhingga, tapi lebih besar dari o…
Seperti notasinotasi kalkulus 
Menghitung ruang waktu dan gerak

Selalu ada paradox yang ingin dipecahkan limit angka
Lalu cinta berapa nilainya?

Angka hanya menghitung suatu fungsi
Bilangan turunan yang diperkalikan
Dan cinta berada di tak terhingga
Tanpa angkaangka

27 November 2010

KOREOGRAFI BATIN 2

maukah engkau berumah di airmataku
hingga hujan tersenyum di atas ladang langit
yang dengan susah payah kita bajak
buat persemaian riang

meski surga membuat tissue seluas doa
maukah engkau tak mengucap sepatahkata
karena hati adalah makna yang punya tafsir sendiri
yang dibisikan Tuhan sebelum kita sendiri mengerti

kasur hidupku telah kualas untukmu
di keheningan yang ramai oleh perasaan sayang
di sini akan kuceritakan kisah penyair itu
lelaki dengan mata gemetar mengabadikanmu

"engkau sajaknya yang hidup"


26 oktober 2010

KOREOGRAFI BANTIN 4

Apa yang mesti kukisahkan padamu dalam koreografi empat cintaku
Ketika penyair itu tengah menyusun orkestrasi kematian
Melodius biola Stradivarius, puisi nada Richard Strauss 
Hujan menyembab di kelopak matanya

“ia di sana cintaku. mengakhiri syair simfonisnya
Lelaki yang kehabisan waktu menulis kata cinta”

Seperti pendekar, ia bertarung dengan kesadarannya
Tapi tak ada yang mau berumah di airmatanya

Pada sajaknya ia menulis namamu
Dan mengekalkannya pada taman mawar di depan rumahnya
“tapi haruskah ia memetik harpa dengan jarinya sendiri?”
Seperti katamu di suatu malam yang melukakannya

Cintaku,
Penyair itu telah memilih menggali liang sepidukanya
Dan menapaki lagi indahnya kesunyiannya
Ia berjalan dengan himne detak hati meraba malam
Ia kadang tersenyum saat mengingat canda yang getir
Yang telah diselipnya di langit
Lalu pada setiap lenguhannya ia selalu mengucap kalimat itu 
Di ujung nafasnya: “Setidaknya aku punya tempat menoleh!”

Dan ia berhenti di tepi kotalautnya
Mendengar kabar cinta darimu 
yang ditulis ombak di atas peta masir
yang ada hanya sangsai yang dihempas ombak
dengan sebegitu kuatnya
meretakkan hatinya

Manado, 8 November 2010

KOREOGRAFI BATIN 3


batinku menarikan aphorisma 
dalam koreografi letih
pada senja memburam 
di garis apokrifaku
pada sketsa arkaismu

aku tak punya apologia
untuk terus meraba detak jantungmu
granit hitam menyembunyikan bayang mawar
di labium cahaya
o...selamat jalan!

di sini nektar hanya mengabadikan kepedihan
penyair yang terus menikam jantungnya
dengan epigram-epigram raungan
dan langit yang itu: bisu

o...darah-darah pucat yang tubah
o...peta masir dari ombak tua
o...keris naga utara
o...ning keheningan
di sini cakangmu...
penyair yang kehilangan kata mencintaimu

"apa namanya angin yang begini ribut
mengoyak oartaku"

burung hitam
ini malamku
lazuardi
mega
sepi
hati
tanpa tepi

27 Oktober 2010

SENARAI CAHAYA

berhenti berkidung bila ritme retak di hatimu
syair yang ingkar patahkan saja, untuk apa? 

lalu buat apa kau jahit langit 
bila sobeknya terlalu luas bagi tanganmu mengapit harap
sedang anak merpati mesti bertarung dengan cakangnya 
agar bisa menengok pagi yang tiba di ujung paruhnya

lihatlah garis putusputus pada cahaya di alas tanah
seperti senarai pesan yang tak usai berkisah
bongkahan cinta menua tak sampai, harus gapai

berjalanlah meski lintasan tinggal jelaga menyaga
agar hati mendewa bak sinar putih di pucuk doa

lelaki tak menoleh bayang hablur pada gumam malam
ia magma di urat bumi makna, menerobos sungai di kelopak mata
karena malaikat cinta hanya bisa dicumbu hati yang kafa


Manado, 10 November 2010

SAJAK  UNTUK VITRIE


Ada malam ketika bulan meringkuk di sayap sepi
di bawanya gadis itu berjalan sendiri
melompati savanah dan rimba musim yang terus ringkih
tapaktapak lisut dalam abu beku di matanya

ia selalu melontarkan senyum pada langit buram
lelaki yang mengawang pada setiap dejavu kerinduan
sesekali ia berucap dengan katakata belia
biar airmata menjadi noktah buat harap berkaca

tapi setiap lipatan angin kisut di dadanya
mendesir jadi degup yang bermakna entah

Ada saat di mana ia melihat tanah
menumbuhkan tunas hati yang di tanamnya dengan ratap
anak air yang tumpah dari kelopak muda
menyembulkan kecambah pohon, ia iberteduh di bawahnya

o....begitu ia melenguh
seperti sajaksajak risau di lengan awan
saat malam senyap dalam kepak kelelawar dan curuk
memakan setiap kata yang ditulis penyair itu

esoknya...persis di depan langkah pertamanya
gadis itu bertemu makam di penuhi tulisan buram

ia tak pergi begitu saja
di taruhnya sepotong hatinya
dan rebah di atas nisan bersama cintanya

23 Oktober 2010

KOREOGRAFI BATIN 5

Safa ya safa
Mawar ya mawar
Safa mawar
Matamu
Tuhan menyatu 
Cahaya
Yang kasat mata

Penyair itu di sana dalam tarian spektrum warna cintaku
Seperti hutan menyatukan ruhnya dengan langit
Memurnikan hati dalam percakapan heningbening
Sebelum daundaun gugur di pucuk labium cahya memburam

Sudahkah engkau membaca sejarah mawar
Daun mahkota adalah pucuk doa
Setelah menjalar dalam kisah ranggasan cendawan
Dan ulatulat pengerat berampasan nektar buat sepekan nafas kupu

Akar cinta adalah ketabahan cintaku
Keuletan daun menangkap surya mendaur udara
Mencair jadi darah mendetakkan nadi
Dan di suatu pagi penyair itu merangkaikannya padamu cintaku
Menjadi sajak: 
“Safayasafamawayamawarsafamawarmatamu
Tuhan menyatucahayayangkasatmata”

Ia pun tersenyum gembira
Memandang tarian hujan mengubah lukisan tanah
Kerena waktu memang punya kisah berbeda
Di atas susunan ratap selalu ada tawa

Manado, 9 November 2010

THEODORA YANA


Acap penyair tak punya kata
Buat memaknai hujan di kelopak mawar

“Apa yang ingin kau lukis pada pesta sepi itu?”

Aku membaca Justianus dalam codax Theodora yang megah
Langit yang ramai dengan pesan indah
Seakan Tuhan memilih perempuan yang dikasihinya

Bendera yang di pacak, dan seikat mawar tergeletak
Tak ada yang dapat di tulis penyair itu

“Ia memandang dengan takjub tapi tak ingin menggumam”

Aku masih ingat celoteh usia pada percakapan kita
Dan fotofotomu yang kau sembunyikan
Tapi aku suka dengan kalung bulat menggantung di lehermu

Dan kau senang saat penyair itu mulai menghafal namamu
Lalu melafalnya seperti doa hujan di pucuk mawar itu

“apakah kamu punya hosti buat sakramen hati yang gemetar?”

Sekali waktu aku ingin pesiar ke cafemu
Mungkin kau tak keberatan bila aku mengambil waktu
Membacakan sajak penyair itu buatmu

“ia tersenyum dalam siuran hati yang sulit dimengerti”

Penyair itu tiba-tiba bergegas meraih mawar di bawah hujan
Dilontarkannya ke langit bersama siuran hatinya

“Theodora Yana bila Tuhan mentatahkan satu hari buat cinta padamu
Maukah kau menerima bunga ini pengganti semua kata yang pergI?”

Penyair itu memandangku, lalu masuk ke hatiku

Manado, 7 Desember 2010

SOME WHERE

Aime aku tak percaya waktu adalah eraser
pagi ini aku dibangunkan "some where"
lagu yang selalu kau nyanyikan pada setiap natal untukku
anak kita menyanyikannya dengan suara malaikatnya

ia sudah besar, sudah bisa bernyanyi sepertimu
seperti engkau yang pernah berbagi surga
ia menyanyikan surga untukku

kau pasti ingat di bawah tiang lapangan yang kedinginan
kitab puisi yang kutulis dengan airmata
sebuah kalung yang sengaja kubuat berterah namamu
kutinggalkan di malam buta berhujan

Seperti charlotte yang kau kekalkan pada sebuah musim
Kau benar ada suatu tempat bernama surga
Di sana aku boleh mendirikan kemah buat cintaku
dan memulai kerja menata segala yang indah dan baru dari awalnya

Pagi ini aku menatap langit dengan bau natal yang mengental
Angin menyaput wajah dan tubuhku
Aku kedinginan laksana pohon yang sendiri
Menunggui langait memasang bintang dan mengirim sesosok peri

Kemeja yang dulu kau belikan telah kuseterika
Yang berwarna hijau akan kukenakan di malam hari
Yang bergarisgaris akan kupakai di siang hari
Aku akan ke gereja saat natal tiba hingga bertemu surga itu

Dan mungkin seseorang akan datang menyanyikan ‘some where’
Dengan ketulusan hati yang lebih terang dari sinar terputih
menerbangkan aku dengan sayabsayabnya yang bercahaya
mengelilingi kemah itu, dan keindahan surga yang disiapkannya untukku

Manado, 8 Desember 2010

PERI CAHAYA (1)

tak lisut kenangan itu
seperti sayapsayap bercahaya
berkelana
di langit bisa saja ia bermuara

begitu bila kamu bertanya air
kemana kau pergi
ia hanya mengalir
mengikuti kecuraman bumi

ia pun pergi seperti uap
membentuk mendung
hingga pelangi bisa memasang tangga
buat peri cahya menemui kekasihnya

dan hujan tiba dengan gema halilintar
buat percakapan bungabunga tentang keindahan
semuanya seperti dansa sepasang kekasih
yang akan berpisah pada sebuah pagi

inilah biorama
kerena kehidupan selalu punya kisah
peta masir yang selalu baru dibentuk ombak
akan jadi baru dibentuk angin

Manado, 9 Desember 2010



PERI CAHAYA (2)

o…
gumam penyair itu dalam puisinya
ketika cintanya terus berjalan di atas lariklarik penuh cahaya
dihela tujuh kereta kuda, melintasi tujuh langit, menuju pintu surga

telah ditinggalkannya kota utara berhujan
waktu penuh kabut, angin kencang yang mengacungkan pedang
ia pergi menuju bab terakhir dari sajak yang akan ditulisnya
tentang peri cahaya yang membawa pergi semua cintanya

“peri cahayaku sayang
betapa sempurna malam di kelip kunangkunang,” kata penyair itu
“tak ada kesedihan, airmata pun tak ada
Kehilangan ini tak sebanding keindahan yang pernah bersinggah,” ujarnya lagi.

Penyair itu mendongak ke langit, ke kumpulan awan menyerupai kekasihnya
“Kau berada di tengah kemegahan yang selalu kutatap.” ucapnya, sambil
Ia
Menggerakan tanganya ke atas
Menyentuh
Wajah 
Kekasihnya
Yang berpendar menjadi butiranbutiran cahaya

Penyair itu menunduk, mengatupkan matanya
Nafasnya berat
Tangannya gemetar
o… gumamnya, dan semua sendinya terasa terlepas
kecuali hatinya yang kokoh bagai baja

ia terhuyung, dan rebah di atas tanah yang basah
tapi bukan oleh airmata
tapi keringatnya yang berabadabad menjaga cintanya
yang kini dibawa peri cahayanya ke surga

hatinya tetap kuat, tak ada penyesalan, sekecil pun tak ada
meski ia rebah di tengah kesunyian, rebah yang indah
di tengah kelip kunangkunang yang menuntun matanya
ke arah langit, mengagumi cahaya peri cintanya

“kau telah di sana periku sayang
Di balik tujuh lapisan langit, tak bisa kuraih meski dengan mati,” bisiknya
“Tapi aku bahagia dan selalu baik
Mengenang canda, dan kelakarkelakar aneh kita,” begitu katanya

Seluruh tubuhnya bergetar
Kecuali hatinya tetap kuat seperti baja
o…gumamnya
“Kau selalu bernama cinta,” tulisnya dibait terakhir sajaknya

Lalu ia meletakan tangannya di atas tanah yang basah
Tapi bukan oleh airmatanya
Tapi oleh keringatnya yang abadabad menjaga cintanya
o…raungnya…di ujung nafas terakhirnya

Manado, 10 Desember 2010



PERI CAHAYA (3)

Semalaman aku menjelajahi malam
Di titik nol kota
Mengintai jalanan senyap
Dan waktu yang lelap di pucuk pohon berdaun merah

Ia tak di sana
Kemana ia
Penyair
Yang selalu berkisah tentang peri cahayanya

Codot yang lelah
Kelelawar menggelantung di cabang kapuk tua
Burung hantu hitam
Bersuara serentak seperti tangisan

Di landai boulevard
bau laut itu
asin 
mengental
dilontar angin mengencang tibatiba

penyair itu harusnya di sini
lelaki yang selalu membiarkan rambutnya bergerimis
oleh kisahkisah cintanya
yang diurainya seperti langit menebar bimasakti

kemana ia
jejaknya pun tak ada
tak ada yang tahu ia kemana
kecuali langit dan tanah tapi tak bisa bersuara

semalaman aku menjelajahi malam
hingga malam habis dimakan cahaya
codok yang lelah
kelelawar yang menggelantung di cabang kapuk tua
burung hantu hitam
serentak dihalau bunyi serine
yang juga membawa pergi bau laut itu
ke liang makamnya

Manado, 11 Desember 2010



ZERO POIN

Dik…
Di zero poin cahaya itu jatuh 
Jalanan membujur empat arah
Tak ramai lagi, tapi sunyi
Kecuali hujan menyanyikan hatiku

Aku ingin pulang dik 
Aku tak mungkin menulis lagi di malam sebegini larut
Meski sajak yang kemarin itu lisut 
tak akan buatkan yang baru

dik…
aku harus memilih satu arah dari zero poin
menapaki kedinginan yang membekukan ingataningatan
tentang canda dan tawa kita di setiap ujung percakapan
hingga hujan yang menyanyikan hatiku 
menenggelamkan kenangan itu

sajak yang kau minta tak selesai kutulis
karena aku tak bisa menyatukan perbedaan
aku hanya bisa merangkai perbedaan menjadi keindahan 
dan itu tak mungkin katamu
hingga cahaya itu jatuh di zero poin
menjadi kepingankepingan kecil
di mana jariku tak bisa meraihnya lagi

Manado 14 Desember 2010

SOMEDAY

ketika hari menjadi tua
dan lampu rumah padam
di tengah malam yang murung
apakah selalu ada suatu waktu bagi kita

di sini langit berhujan dik
ia menyembunyikan pengelana cahaya
padahal di beranda aku selalu menanti lagunya
lagu pengharapan tentang suatu waktu

dan ketika angin mengencang
hatiku menyanyikan lagu itu: some day
lalalalala lala la..
aku merasa sangat sendiri dik, meniti waktu

irama ini berlari menuju padang hujan
membawa hatiku menggigil di bawah airmata langit itu
lalu sunyi seperti puncak konser ribuan malaikat
menggali semua gelisah yang teramat suram ini
o…
aku tak berdaya oleh cinta
cinta yang selalu menjadi baitbait syair yang tak pernah selesia kutulis

o…
betapa beku malam di sini dik
sebuah kursih di beranda
menyaksikan hatiku melintasi masa
abadabad yang akan berisi airmata

dan ketika hari turus menua
di atas daun-daun kemboja yang gugur itu
esoknya aku akan menyapu halaman beranda ini
mengepel lantai granit dengan airmataku sendiri

25 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar